JURNAL
PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK II
DISUSUN OLEH:
WAFIQAH ALVIA. R
(A1C118047)
DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
I. Judul :
"Skrining Fitokimia Senyawa Bahan Alam"
II. Hari/Tanggal :
Rabu, 11 November 2020
III. Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu :
- Dapat mengenal dan memahami teknik-teknik skrinning fitokimia bahan alam
- Dapat mengetahui jenis-jenis pereaksi yang digunakan dalam skrinning fitokimia bahan alam
- Dapat melakukan skrinning fitokimia bahan alam dari suatu simplisia tumbuhan
IV. Landasan
Teori
Kandungan kimia yang terdapat pada makhluk hidup berdasarkan
pada cara terbentuk dan fungsinya dapat dikelompokkan atas dua kelompok besar
yaitu ; (1) metabolit primer yang merupakan senyawa organik yang terlibat dalam
proses metabolisme dalam makhluk hidup tersebut seperti karbohidrat,lipid, protein
dan asam asam amino. (2) metabolit sekunder yang merupakan hasil samping proses
metabolisme seperti alkaloid, steroid, terpenoid, flavonoid, fenolik, kumarin,
kuinon, saponin, tannin, lignan dan glikosida, dll yang dikenal juga sebagai
kimia bahan alam (Natural Product Chemistry). secara umum keberadaan suatu
kelompok metabolit sekunder dalam bagian tumbuhan makhluk hidup akan dapat
dideteksi berdasarkan pada sifat kimia yang khas dari gugus fungsi kelompok
metabolit sekunder tersebut untuk bisa bereaksi dengan pereaksi kimia tertentu.
Menurut Famsworth (1996) yang dimaksud dengan skinning fitokimia adalah
pemeriksaan kimia secara kualitatif terhadap senyawa senyawa aktif biologis
(metabolit sekunder/bahan alam) yang terdapat dalam simplisia tumbuhan atau
makhluk hidup lainnya oleh karena pada umumnya yang merupakan senyawa aktif
tersebut adalah senyawa-senyawa organik, maka pemeriksaan skinning fitokimia
terutama ditujukan terhadap golongan senyawa-senyawa organik ; alkaloid,
steroid, terpenoid, flavonoid, fenolik, kumarin, kuinon, saponin, tannin,
lignan dan glikosida, dll.
Pereaksi yang digunakan untuk skrining fitokimia guna
mengidentifikasi terhadap masing-masing jenis metabolit sekunder tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan larutan larutan pereaksi untuk alkaloida yaitu
pereaksi Wagner, pereaksi Mayer dan dragendorf. Untuk jenis steroid dan
terpenoid dapat digunakan pereaksi Liehermann- Buchard, sedangkan untuk
identifikasi flavonoid dapat digunakan pereaksi Shimoda dan larutan NaOH 10% (Tim
Penuntun Praktikum Kimia Organik II, 2020).
Skrining fitokimia bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam kulit batang jarak kepyar (Riamis communis L. ). Hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa fenolik, flavonoid,alkoloid, saponin, dan terpenoid. ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan pada fraksi etanol, etil asetat, n-heksana dan asam askorbat sebagai pembanding dengan menggunakan metode DPPH. Pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometri UV - VIS. Fraksinasi dilakukan dengan menggunakan larutan n-heksana dan etil asetat. ekstrak kental hasil maserasi dimasukkan ke dalam corong pisah dilarutkan dalam beberapa ml etanol, kemudian diambil sebanyak 100 ml untuk difraksinasi. senyawa antioksidan dapat meredam reaksi radikal bebas yang bersifat tidak stabil. antioksidan adalah senyawa kimia yang dapat menyumbangkan satu atau lebih elektron pada radikal bebas sehingga menjadi stabil. dalam kehidupan antioksidan memiliki peran yang positif bagi kesehatan manusia. Antioksidan dapat dibagi menjadi dua bagian utama berdasarkan sumbernya yaitu antioksidan alami dan antioksidan sintesis. beberapa contoh antioksidan alami adalah senyawa-senyawa yang terdapat dalam bahan alam atau bahan makanan seperti senyawa senyawa turunan fenol, flavonoid, vitamin C dan vitamin E. Antioksidan sintetik dapat memicu penyakit apabila digunakan dalam jangka waktu panjang. Karena itu diperlukan alternatif lain yaitu dengan menggunakan antioksidan alami. antioksidan alami dapat ditemukan pada tumbuhan karena mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan (Nurhamidah,2017).
Skrining fitokimia meliputi uji alkaloid, fenol, flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid, steroid dan terpenoid. Hasil skrining fitokimia ekstrak n-heksan korteks batang salam. Uji flavonoid dilakukan dengan melarutkan ekstrak dalam etanol mendidih kemudian ditambahkan FeCl2. sampel tidak menunjukkan hasil positif mengandung flavonoid karena tidak terbentuk warna hijau atau hitam pekat setelah penambahan FeCl3. hal ini dikarenakan senyawa golongan flavonoid ini lebih larut dalam pelarut polar seperti metanol. uji alkaloid yaitu senyawa alkaloid bereaksi dengan pereaksi dragendorff menghasilkan endapan jingga hingga merah kecoklatan (Fitriyani, 2016).
Pada dasarnya ada dua metode untuk mendapatkan zat aktif secara sekaligus dalam suatu tanaman yaitu mencari zat aktif secara biologis dalam senyawa ataupun dengan cara efek suatu biologis yang timbul oleh tumbuhan tertentu. salah satu pendekatan untuk penelitian tumbuhan obat adalah suatu pendekatan pendekatan untuk penelitian tumbuhan adalah bahan kimia yang terkandung dalam tanaman. Cara ini digunakan untuk mendeteksi senyawa tumbuhan berdasarkan golongannya. Sebagai informasi awal dalam mengetahui senyawa kimia apa yang mempunyai aktivitas biologi dari suatu tanaman. Metode yang telah dikembangkan dapat mendeteksi adanya golongan senyawa alkanoat, flavonoid, senyawa fenolat, tanin, saponin, kumarin, kuinon, steroid dan terpenoid (Sastroamidjojo, 2008).
Kandungan fitokimia dalam tumbuhan kenitis adalah polietenol. Pada sebuah penelitian buah segar kartu yang diekstrak dengan metanol dan dipisahkan dengan heksana dan etil asetat fraksinasi larutan etil asetat menunjukkan aktivasi antioksidan yang tinggi pada 1,1- difenil-2-plycrylbydrazy (PPPH) dan pengujian didapatkan 9 macam polifenol antioksidan yaitu catechin, apratechin, dll (Harbrone, 2011).
V. Alat dan Bahan
a. Alat
- Tabung reaksi 20 bh
- Erlenmeyer 250 ml
- Plat tetes
- Gelas kimia 200ml
- Pipet tetes
- Lumping
- Corong gelas
- Gelas ukur
b. Bahan
- Pereaksi Dragendorf
- Kloroform
- NaOH padatan
- Pereaksi Meyer
- Etanol
- Brusin
- Pereaksi Wagner
- Methanol
- Iodine
- Shinoda
- Heksan
- KI
- Pandan
- Kayu manis
- Belimbing wuluh
- Sereh
- Jeruk purut
VI. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
a) Pemeriksaan Alkaloida
- Dihaluskan simplisia tumbuhan sebanyak 2-4 gr pada lumpang dengan menambahkan sedikit kloroform dan pasir bersih (silica).
- Bahan tumbuhan yang sudah halus dibasahi dengan 10ml kloroform, lalu gerus lagi dan ditambahkan 10 ml kloroform amoniak 1/20 N dan gerus lagi.
- Saring bahan yang telah digerus tadi kedalam tabung reaksi, tambahkan 10 tetes larutan asam sulfat 2N, lalu dikocok.
- Dipisahkan dan didekantasikan lapisan asam kedalam tiga tabung reaksi kecil dan masing-masing tabung ditambahkan dengan satu tetes pereaksi Meyer, Wagner, dan Dragendorf.
b) Pemeriksaan Steroid dan Terpenoid
- Dimasukkan simplisia tumbuhan 5 gr kering yang telah dirajang halus kedalam erlenmeyer 250 ml. Lalu tambahkan dengan 25 ml etanol dan diaduk-aduk.
- Panaskan diatas penangas air selama 10 menit (jangan menggunakan api langsung), dan saring dalam keadaan panas.
- Diuapkan filtrat pelarutnya dengan rotary evaporator atau dengan menggunakan penangas air sehingga diperoleh ekstrak pekat etanol.
- Dititrasi ekstrak pekat etanol dengan sedikit eter dan beberapa tetes larutan eter ditempatkan dalam 2 lobang plat tetes dan biarkan kering.
- Ditambahkan 2-3 tetes anhidrida asam asetat, diaduk dengan hati-hati.
- Ditambahkan 1 tetes asam sulfat pekat dan amati perubahan warna yang terbentuk.
- Periksalah reaksi dengan menambahkan asam sulfat pekat pada lobang plat tetes yang satu lagi, amati warna yang terjadi. Kalau terbentuk warna yang sama sangat boleh jadi contoh tumbuhan yang diperiksa tidak mengandung terpenoida tapi senyawa lain yang bereaksi dengan asam sulfat pekat.
c) Pemeriksaan Flavonoida
- Diekstrasksi 0,5 gr simplisia tumbuhan yang telah dihaluskan dengan 10 ml etanol panas selama 5 menit dalam tabung reaksi.
- Disaring hasil ekstrak dan filtratnya ditambahkan beberapa tetes HCl pekat, lalu ditambahkan lebih kurang 0,2 gr bubuk magnesium. Bila timbul warna merah tua, menandakan contoh mengandung flavonoid. Cara uji teknik shinoda (Mg+HCl).
- Cara lain pengujian flavonoid, dengan menambahkan ekstrak etanol diatas dengan 2 tetes NaOH 10% . adanya flavonoid ditandai dengan perubahan warna kuning-orange merah.
d) Pemeriksaan Saponin
- Dimasukkan lebih kurang 0,5 gr bahan tumbuhan kedalam tabung reaksi, lalu tambahkan 10 ml air panas dan biarkan menjadi dingin kemudian dikocok selama 10 detik.
- Bila terbentuk busa yang stabil setinggi 1-10cm selama 10 menit tidak hilang saat penambahan 1 tetes asam klorida 2N pada perlakuan ini, berarti tes saponin adalah positif.
e)
Pemeriksaan Kuinon
Dipotong-potong halus simplisia tumbuhan, kemudian diekstraksi dengan eter.
Jika warna contoh yang diuji masuk kedalam pelarut eter boleh jadi zat warna
yang ada adalah kuinon.
f)
Pemeriksaan Kumarin
Ekstrak metanol atau ekstrak dari simplisia tumbuhan dapat dideteksi keberadaan
kumarinnya dengan cara ekstrak etanol atau metanol dari contoh kromatografi
lapis tipis, dengan menggunakan eluen etil asetat atau etil asetat : metanol
(9:1) atau (8:2). Dibawah sinar ultraviolet gelombang panjang 360 nm kumarin
biasanya akan berfloresensi biru dan kalau noda ini diberi uap ammonium akan
terlihat noda yang berwarna kuning.
Dibawah ini merupakan link video terkait Skrining Fitokimia Senyawa Bahan Alam :
Pertanyaan :
- Pada saat dilakukannya pemeriksaan steroid dan terperoid apa fungsi penambahan asam sulfat tersebut?
- Disini pada pemeriksaan Alkaloid kita menggunakan 3 reagen yang mana ada reagen mayer. Wagner dan Dragendorf yang mana digunakan untuk menguji tanaman tersebut bagaimana jika kita hanya menggunakan satu atau dua reagen. Apakah sudah bisa mewakili keakuratan dalam pemeriksaan alkaloid?
- Mengapa pada uji flavonoid ditambahkan ekstrak etanol ? Apa fungsi ekstrak etanol pada pengujian ini?

Wisliana (A1C118060)
ReplyDelete2. Fungsi penambahan asam sulfat pekat yaitu untuk menghidrolisis air yang akan bereaksi dengan turunan asetil yang membentuk cincin, sehingga mendapatkan hasil yang sesuai. Dimana steroid yang bewarna hijau dan terpenoid bewarna orange kemerahan.
Saya Zulia Nur Rahma (048) akan menjawab permasalahan no 3.
ReplyDeleteMenurut saya Fungsi ekstrak Etanol pada pengujian flavonoid adalah sebagai pelarut yang bersifat universal sehingga dapat melarutkan Analit yang bersifat polar dan nonpolar. Sehingga, Etanol dapat menarik alkaloid, steroid,
saponin, dan flavonoid dari tanaman.
Terimakasih
saya denora situmorang (056) akan mencoba menjawab permasalahan no 1 dimana asam sulfat ditambahkan pada uji steroid atau terpenoid ini sebagai pereagen yang dimana akan menghasilkan warna coklat. terimakasih
ReplyDelete